Agresi dalam Olahraga

 

Pengertian Agresi.

Ada beberapa teori tentang agresi yang dikemukakan oleh para ahli. Baron (dalam Bunker, 1985) definisi agresi” beberapa bentuk dari perilaku langsung kearah tujuan merugikan atau melukai hidup orang lain yang dimotivasikan untuk menghindari perlakuan seperti itu”.

Llewellyn (1982) mengemukakan bahwa tindakan agresi dapat didefinisikan seperti olahragawan yang a) dimotivasi tinggi, b) memperlihatkan energi fisik, c) tidak dihalangi rasa takut pada potensi kegagalan. Berdasarkan definisi diatas, maka yang dimaksud dengan agresi adalah suatu tindakan yang merugikan atau melukai orang lain dan suatu tindakan yang mempunyai arti semangat  yang dapat mencapai sebuah kemenangan atau prestasi. Beberapa contoh dalam cabang olahraga yang bermotivasi semangat seperti pemain belakang dalam sepakbola akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan pemain depan lawan dengan cara mentakling maupun kontak bodi pada saat perebutan bola. Demikian juga sebaliknya pemain depan lawan akan berusaha merebut bola dengan tujuan mencetak gol kegawang lawan. Seorang pemain tenis akan berusaha memenangkan suatu point dengan cara bermain dekat net agar bola lawan dapat secepatnya dimatikan.

Teori-Teori Tentang Agresi

Menurut tinjauan asal dan karakteristik perilaku agresif. Bandura (dalam llewellyn, 1982) menjabarkan tiga teori sebab-sebab agresi pada anak: instinct theory, drive theory, dan sosial learning theory.

Berkenaan dengan instinct theory, perilaku agresif digunakan untuk proteksi. Bayi dilahirkan dengan insting dan keperluan tertentu, dimana insting merupakan proteksi diri. Refleksi tertentu pada bayi seperti contoh perilak agresif itu ber,aksud untuk proteksi.

Drive theory. Situasi agresi ini disebabkan oleh frustasi, sebagai contoh tidak dapat meraih tujuan yang diinginkan. Potensi situasi-situasi frustasi tidak perlu dihindari. Anak-anak perlu belajar menanggulangi frustasi. Sebab situasi frustasitidak dapat dihapuskan dari olahraga, olaharga memberikan suatu kesempatan yang baik untuk para pemain belajar menghadapi frustasi.

Sosial learning theory. Mungkin mempunyai implikasi yang lebih untuk para pelatih dari pada teori yang pertama dan yang kedua. Sesuai dengan teori, sebab-sebab disebabkan oleh tiga pengaruh yaitu, family, subkultur dan symbolic modeling.

Sebab-Sebab Terjadinya Agresi.

Dalam teori belajar sosial telah disebutkan bahwa yang dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku agresi antara lain: Family,pengaruh contoh famili ditentukan oleh tiga macam pengaruh yaitu; a) penonjolan kekuatan, b) pengambilan kembali kasih sayang, c) induksi. Kapan saja dimungkinkan, para pelatih semestinya menggunakan ketiga pengaruh. Dengan olahragawan senior, para pelatih dapat menggunakan beberapa metode untuk memotivasi perilaku agresif, jika agresifnya ternyata diperlukan sekali dalam situasi olahraga.
Subcultur, merupakan penentu utama agresi dalam sekelompok sosioekonomi tertentu. Dalam beberapa subcultur perilaku agresif tidak hanya dimaafkan tetapi didorong. Penelitian pada bentuk-bentuk kultur dan subkultur pada kekerasan ditunjukkan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat yang berbeda pergaulan mengenai agresi. Sejumlah anak dari latar belakang sosio ekonomi rendah mempertunjukkan lebih bebas mengekspresikan agresi dan menjanjikan kekerasan fisik dari pada anak yang latar belakangnya sosio – ekonomi yang lebih baik.

Pengaruh ketiga pada perkembangan agresi, symbolic modeling. Tentu tidak semua olahragawan merupakan model yang baik bagi orang-orang muda. Diyakini oleh sebagian orang bahwa televisi dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan atau destruktif, terutama anak-anak muda dan orang menderita dari emosi yang buruk. Televisi menggunakan fakta memilih anak muda dalam percobaan pembunuhan. Para penegak hukum menentang televisi itu “mengindoktrinasisi” anak muda melakukan pembunuhan.

Dalam teks terbaru hubungannya dengan psikologi sosial olahraga. Cratty (Cratty, 1983) memasukkan sejumlahsebab-sebab terjadinya suatu agresi antara lain; a) kecenderungan faktor-faktor sosial meliputi perasaan negatif  bangsa-bangsa yang digambarkan dalam kompetisi olahraga, b) hadiah dan hukuman dikelola oleh anggota keluarga sebelum dan selama individu berkompetisi olahraga, c) pengaruh-pengaruh dari model-model agresif siapa saja yang berhasil, d) penggiatan aktivitas dan fitnes, e) perasaan tentang akibat-akibat dendam, mengganggu aktivitas kapasitas agresi dan arti yang dilihat pada aksi agresor.

Cratty (dalam Pete, 1993) membuat daftar beberapa situasi yang dapat mengarah pada peningkatan agresi dan pada masalah-masalah yang secara  potensial berbahaya; a) seorang pemain yang tidak sehat, b) seorang pemain didepan masa yang tidak ramah, c) seorang pemain dalam tim yang sedang mengalami kekalahan dalam pertandingan yang sangat ketat, d) suatu tim dari peringkat atas bermain dengan peringkat bawah, e) pertandingan antar tim yang berbeda latar belakang ras atau pemahaman etniknya, f) latar belakang permusuhan antara  dua tim dari dua ras atau dua suku bangsa yang berbeda dan atau situasi politik yang mereka wakili, g) kehadiran perbuatan agresifoleh orang lain yang tidak dihukum atau menghasilkan keuntungan. Antisipasi tentang masalah agresif ini mungkin pelatih dengan leluasa menentukan strategi untuk mencegah perilaku agresif.

Keputusan Tentang Agresi

Apabila mengajarkan perilaku agresif, pelatih harus memperhatikan norma-norma olahraga. Olahraga dipengaruhi oleh aturan dan peraturan. Olahragawan harus diajar untuk tetap berpegang pada aturan bukan untuk melanggarnya secara sembunyi-sembunyi. Kemenangan tidak memiliki arti apa-apa bila dicapai dengan mengajarkan perilaku yang tidak bermoral dan dapat menimbulkan bahaya.

Pelatih juga harus dapat menyediakan contoh peran yang sesuaidengan kelompok acuannya. Apabila ini tidak dilakukan, olahragawan mudapun dapat dengan mudah mencontoh olahragawan profesional yang paling agresif yang pernah dilihatnya. Akhirnya pelatih harus bertanya pada dirinya sendiri apakah cara mengajarnya benar dan dapat diterima secara moral. Tindakan kekerasan tidak dapat dibiarkan. Kekerasan hanya akan menghilangkan nilai-nilai luhur dari suatu usaha yang sangat manusiawi.

Hubungan Agresifitas dan Prestasi Olahraga

Pengendalian Agresifitas dalam Olahraga.

Sifat agresif hanyalah merupakan salah satu dari sifat individu. Kecendrungan sifat agresif pada pemain menjadi tingkahlaku yang positif dan diperlukan untuk memenangkan sebuah pertandingan atau sebaiknya menjadi tindakan destruktif. Sifat agresif yang dimiliki pemain yang juga memiliki kestabilan emosional, disiplin, rasa tanggungjawab yang besar, tidak akan menjadi masalah dalam pengarahannya. Pelatih dapat menyiapkannya untuk bermain agresif, dengan tidak khawatir ia akan bertindak destruktif dan merugikan lawannya.

Oleh karena itu, pelatih hendaknya memberikan:

1. anjuran untuk bermain agresif harus terarh, kapan, dan bagaimana cara yang tetap agar tidak menimbulkan hal negatif dan melukai lawan.

2. bermain agresif harus disertai dengan peningkatan penguasaan diri, agar dapat mengkontrol diri sendiri.

3. bermain agresif harus disertai dengan disiplin dan rasa tanggungjawab, yaitu selalu mematuhi peraturan dan tunduk pada keputusan wasit serta dapat mempertanggungjawabkan tindakannya.

4. perlu ada penghargaan bagi nmereka yang bertindak agresif tetapi tidak melukai lawan, memelihara sportivitas, dan sebaliknya memberi hukuman apabila berusaha melukai lawan atau tindakan tercela dan melanggar peraturan.

Dalam upaya pengendalian tindak kekerasan dan agresifitas yang menyimpang, R.H. Cox mengungkapkan :

1. atlet-atlet muda harus diberi pengetahuan tentang contoh tingkah laku non agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.

2. atlet yang terlibat dalam tindakan agresif harus dihukum. Harus disadarkan bahwa tindakan agresif dapat membahayakan lawan atau tindakan yang tidak dibenarkan.

3. pelatih yang memberi kemungkinan para atlet terlibat agresif dengan kekerasan harus diteliti dan harus dipecat dari tugasnya.

4. pengaruh dari luar yang memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan kekerasan dilapangan harus dihindarkan.

5. para pelatih dan wasit didorong atau dianjurkan untuk menghadiri lokakarta yang membahas tentang tindakan agresif dan kekerasan

6. disamping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan atlet harus didorong secara positif meningkatkan kemampuan untuk bertindak tenang terhadap situasi emosional.

7. penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih secara praktis antara lain melalui latihan mental.

kesimpulan

Dari pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kadar yang sesuai, perilaku agresif sangat diperlukan dalam memenangkan sebuah pertandingan. Cabang olahraga seperti tinju, karate, tae kwondo, dll sikap agresif sangat diperlukan. Namun, dalam tingkat yang berlebihan dan tidak terkendali, sikap agresif akan sangat merugikan dan akan menjurus pada tindakan merusak atau yang merugikan baik diri sendiri, lawan atau lingkungan.

Dalam olahraga, sikap agresifitas yang ditunjukkan oleh pemain yang mengikuti olahraga body contact memiliki tingkat kestabilan emosi yang lebih baik ketimbang orang yang mengikuti olahraga non body contact. Hal ini dikarenakan, bagi mereka yang mengikuti olahraga body contact yang biasanya berupa olahraga beladiri, contact badan merupakan hal yang sudah biasa mereka terima selama kadarnya masih ringan diterima atau biasa.

Beberapa rekomondasi sebagai upaya untuk mengendalikan agresifitas antara lain: a.) teknik time out, b.) memberikan pemahaman dan contoh perilaku non agresif sebagai metode konstruktif untuk memecahkan masalah, c.) menciptakan atau mendisain lingkungan belajar/latihan yang kondusif, d.) memberikan latihan empati. Lorenz mengatakan cara yang terbaik dalam pemecahan agresif adalah dengan memperluas kesempatan untuk menurunkan dorongan agresifitas melalui peran serta dalam olahraga dan aktivitas kompetitif yang tidak menimbulkan kerugian lainnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s