ADAPTASI LATIHAN PADA FISIOLOGI OTOT

 

Peningkatan kemampuan kerja otot akibat latihan beban ini disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi pada system neuromuscular (adaptasi system neuromuscular). Perubahan tersebut antara lain oleh karena terjadinya hipertrofi otot (Coker, 1978: 3). Peningkatan ukuran otot  menyebabkan kontraksi otot lebih kuat (power meningkat), pengulangan kontraksi lebih cepat (meningkatkan speed), periode latihan tahan lama (meningkatkan ketahanan otot). Menurut Baechle & Groves (1997: 8) penambahan ukuran otot (hipertrofi) seringkali disebabkan bertambah besarnya serat-serat otot yang ada, serat-serat yang memang sudah ada sejak lahir. Bertambah besarnya serat-serat otot disebabkan bertambahnya protein aktin dan miosin. Pada gambar 2.20 berikut ini menunjukkan hipertrofi otot. Gambar A hipertrofi otot sebelum latihan, dan gambar B hipertrofi otot setelah latihan

Gambar A                                      Gambar B

Gambar 2.20. Hipertrofi otot  (Baechle & Groves, 1997: 8)

 

Hasil penyelidikan membuktikan bahwa program latihan 1-10 set dan 1-10 repetisi dapat meningkatkan kekuatan otot skelet (Sprague, 1993: 72). Kekuatan maksimal dipengaruhi oleh penampang lintang atau diameter otot terutama diameter filament myosin, kemampuan rekruitmen serabut otot cepat dan sinkronisasi otot dalam aksi gerak (Bompa, 1993: 129). Pendapat yang sama disampaikan oleh Sumosardjuno (1994: 16) bahwa besar kecilnya kekuatan otot tergantung besarnya serabut-serabut otot itu sendiri, dan juga tergantung pada jumlah serabut-serabut saraf yang mensuplai serabut otot. Penampilan otot juga dipengaruhi oleh kecepatan dan kekuatan dari kontraksi otot.

Dengan latihan beban sistem saraf juga akan semakin baik karena pengerahan motor unit semakin bertambah. Seperti dinyatakan Alerge, Jimenez, Gonzalo,  Acero & Aguado (2006: 501) respon otot dari latihan beban selain peningkatan massa otot, juga  adaptasi saraf. Hal ini disebabkan oleh proses “belajar” yang berada di corteks motorik otak oleh rangsang gerak yang dilakukan secara berulang-ulang melalui sejumlah repetisi latihan, melaksanakan berbagai beban, maupun melalui pola gerak (Pate, Mc.Clenaghan, & Rotella, 1984: 322).

Latihan beban juga dapat meningkatkan protein kontraktil sehingga terjadi peningkatan konsentrasi ATP-PC dan enzim glikolisis. Lamb (1984: 178) menyatakan bahwa latihan beban dapat berpengaruh terhadap hipertrophi otot, ukuran mitochondria, meningkatkan ukuran myofibril dan sarkoplasmik, meningkatkan konsentrasi ATP-PC dan enzim glykolisis. Pendapat yang sama dikatakan Coker (1978: 3) bahwa latihan dapat menyebabkan otot jadi responsif terhadap beban latihan, pembesaran serabut otot, peningkatan jumlah kapiler, peningkatan jumlah dan ukuran mitochondria, dan peningkatan protein kontraktil.

Dengan terjadinya hipertrophi otot dan membaiknya system saraf, serta meningkatnya  protein kontraktil maka akan menyebabkan meningkatnya kekuatan otot. Seperti dinyatakan oleh Bompa (1993: 12) bahwa kekuatan otot dipengaruhi oleh penampang lintang atau diameter otot terutama diameter filament myosin, kemampuan rekruitmen serabut otot cepat dan sinkronisasi otot dalam aksi gerak. Ramsay,  Blimkie, Smith, Grarner, McDougall & Sale (1990) menyatakan bahwa adaptasi oleh latihan beban adalah meningkatnya aktivasi dan rekruitmen motor unit. Menurut Surakka (2005: 15) latihan beban dengan beban tinggi (heavy weight) menyebabkan sistem rekruitment motor unit pada otot tipe II mempunyai rangsang threshold yang cepat.

b. Pengaruh Latihan Beban Pada Unsur-unsur  Fisik

Seiring terjadinya adaptasi secara fisiologis, latihan beban juga  menyebabkan adaptasi pada beberapa unsur fisik. Latihan beban selain membangun kekuatan, juga dapat meningkatkan kemampuan unsur-unsur kondisi fisik lain. Bompa (2000: 318) menyatakan jika latihan beban bertujuan mengembangkan salah satu komponen biomotor, misalnya kekuatan, maka latihan itu akan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan biomotor lain, misalnya daya tahan otot, kecepatan, maupun eksplosive power. Hal ini terjadi karena latihan beban menyebabkan pengulangan kontraksi lebih cepat sehingga meningkatkan speed dan daya ledak, dan latihan dalam periode yang lama akan meningkatkan ketahanan otot (Coker, 1978: 4).

Menurut Stone, O’Bryant, McCoy, Goclianese, Lehmkulm & Schilling (2003) peningkatan kekuatan maksimum merupakan komponen primer yang mengarah pada peningkatan jumping power. Menurut O’Shea (1976: 26) bahwa kekuatan merupakan salah satu faktor dari dayatahan otot. Hal ini didasarkan pada penelitian Shaver (dalam O’Shea, 1976: 27) bahwa ada korelasi yang tinggi antara dynamic strength dengan dynamic endurance. Lebih lanjut dinyatakan oleh Chui (dalam O’Shea, 1976: 26) berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan secara signifikan akan diikuti oleh peningkatan kecepatan secara signifikan pula. Latihan kombinasi isometric dan isotonic meningkatkan kekuatan otot sebesar 17% dan kecepatan 8%.

Menurut Dreger (2006) latihan beban dengan frekuensi 3 kali setiap minggunya akan tampak pengaruhnya setelah 8 minggu latihan. Lebih lanjut dinyatakan Dreger bahwa dengan latihan beban dapat meningkatkan kekuatan otot sampai 50%. Sedangkan menurut Feigembaum, Zalchkowsky, Westcott, Michell & Fehlandt (1993) latihan beban 8 minggu dengan frekensi latihan 3 kali perminggu bisa meningkatkan kekuatan otot sampai 74%. Sharkey (2003: 197) menyatakan bahwa peningkatan kekuatan tidak secara drastis, yaitu hanya berkisar 1-5% per minggu, dan tingkat peningkatan yang dicapai akan stabil jika telah mendekati kekuatan maksimal yang potensial. Karena itu disarankan untuk meningkatkan atau mengubah program yang bisa dilakukan setelah berlangsung latihan 4 minggu atau 8 minggu.

Penelitian yang dilakukan Surakka (2005) menunjukkan bahwa latihan beban dengan intensitas ringan dapat meningkatkan daya ledak sebesar 15%, intensitas sedang dapat meningkatkan 16% dan dengan intensitas berat dapat meningkatkan 14%. Latihan dengan intensitas ringan tidak dapat memperbaiki kecepatan lari 20 m, dengan intensitas sedang kecepatan lari 20 m dapat meningkat sebesar 5%, dan dengan intensitas berat kecepatan lari 20 m hanya meningkat 3%.

Penelitian yang dilakukan Kraemer (1997: 131) menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap kekuatan, power, daya tahan otot dan lean body mass dengan latihan beban sistem multiple-set pada pemain sepak bola mahasiswa.

Sementara Ostrowski (1997: 148) menemukan bahwa latihan beban dengan intensitas sedang dapat meningkatkan kekuatan maksimum, tetapi tidak ada perbedaan signifikan antara latihan dengan sistem satu, dua dan empat set.

Penelitian Sanbonr, Boros & Hruby (2000: 32) menunjukkan bahwa setelah latihan selama 8 minggu dengan program multiple set, vertical jump meningkat sebesar 11%, sementara latihan dengan program single set hanya meningkat 0,3%. Penelitian Ramsay, Blimkie, Smith, Grarner, McDougall & Sale (1990) menemukan bahwa latihan beban meningkatkan kekuatan bench press 35% dan legpress 22%.

Penelitian yang dilakukan oleh Blazevich & Jenkins (2002: 981) dengan sampel pelari elit yunior, dilaporkan bahwa latihan beban dengan intensitas tinggi dan latihan lari dapat meningkatkan vertical jump, tetapi terhadap  kecepatan sprint 20 m tidak meningkat secara signifikan.

Penelitian yang dilakukan Kraemer, Ratamess, Fry, McBride, Koziris, Bauer, Lynch & Fleck (2000: 626) melaporkan adanya pengaruh yang signifikan latihan beban dengan sistem multiple set terhadap penurunan persen  body fat setelah latihan berjalan 4, 6 dan 9 bulan. Sebaliknya latihan beban dengan sistem single set tidak berpengaruh terhadap persen body fat. Penelitian ini juga melaporkan bahwa latihan beban dengan sistem multiple set dapat meningkatkan anaerobic power dan vertical jump, sementara latihan beban dengan sistem single set tidak berpengaruh signifikan terhadap anaerobic power maupun vertical jump. Terhadap kekuatan otot melalui tes shoulder press dan leg press, kedua sistem latihan beban tersebut dapat berpengaruh secara signifikan. Terhadap kecepatan servis dalam tenis lapangan, peningkatan terjadi pada latihan dengan sistem multiple set, sedangkan dengan sistem single set tidak meningkat secara signifikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Swensen, Mancuso & Howley (1993: 43-47) mengunkapkan bahwa weight training dengan beban moderat yang diberikan pada mahasiswa laki-laki dapat meningkatkan VO2max dan kekuatan otot secara bermakna. Kekuatan otot meningkat sampai 20% dan VO2max meningkat sampai 13,4%.

Penelitian Smith, Swank, Kirby, Manire, Roberson, Schrink, Allard & Denny (2004:  23-28) dengan sampel penderita lemah jantung, yang dilakukan selama 12 minggu menggunakan latihan beban dengan alat-alat leg press, shoulder press, leg extension, lateral pulldown, cable bicep culr dan horizontal squat dengan beban 50-80% 1-RM dan dikombinasikan dengan latihan aerobik menggunakan treadmill, hasilnya dilaporkan bahwa latihan tersebut dapat meningkatkan oksigen uptake sebanyak 14% dari 15.7 ml/kg/min menjadi 21.5 ml/kb/min. Latihan tersebut juga dapat meningkatkan kekuatan otot. Kemampuan mengangkat beban leg press meningkat 59%, leg extension meningkat 50% dan lateral pull down meningkat 34%.

Penelitian yang dilakukan Madri (2005) menyimpulkan bahwa latihan beban sub-maksimal menggunakan alat leg press dengan frekuensi tinggi lebih baik pengaruhnya terhadap daya ledak dari pada frekuensi rendah. Adapun pengaruhnya terhadap hipertrofi otot, latihan beban dengan frekuensi rendah lebih baik dari frekuensi tinggi. Penelitian yang dilakukan Starkey, Pollock & Ishida (1996: 1311) menunjukkan bahwa latihan kekuatan dinamis dengan satu set dan tiga set mempunyai pengaruh yang sama terhadap isometric torque yang diukur pada gerak fleksi dan ekstensi lutut.

Berdasarkan urian pada adaptasi fisiologis akibat latihan beban an adaptasi latihan beban terhadap unsur-unsur fisik seperti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa latihan beban mempunyai pengaruh terhadap peningkatan fungsi sistem neuromuskuler (sistem saraf dan otot). Peningkatan tersebut terjadi pada hipertrofi otot, peningkatan rekruitmen motor unit, peningkatan protein kontraktil otot dan peningkatan persediaan ATP-PC dan enzim glikolisis. Dengan meningkatnya fungsi sistem saraf dan otot tersebut selanjutnya akan dapat ditingkatkan kondisi fisik seperti kekuatan otot, daya tahan otot, power dan kecepatan sprint, 2). Latihan akan berpengaruh setelah berjalan 8 minggu. Daya ledak (power) meningkat antara 14-16 %. Kecepatan lari 20 meter meningkat 3-5%. Kekuatan dan daya tahan otot meningkat antara 22-74%.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s